PUISI BEDUG



jangan Ributkan Aku…

Hai, ikhwah, namaku beduk..
Aku gak kemana-mana..
Tapi aku ada di mana-mana..
Hehehe kayak slogan Bintang 9..

Aku hanya sepotong kayu glondongan

Yang dilubangi dengan pahat dan ketam..
Lalu lubang di tubuhku ditutupi kulit
Kulit sapi samakan..

Kulit sapi samakan, ya!! samakan..

sehingga secara toharoh dzatiahku suci..
Bisa dipakai alat sholat pengganti sajadah..
Hingga bila aku nongkrong di masjid atau mushola
Aku tak diharamkan karena kenajisan kulitku..

dulu waktu
Indonesia gak punya Power Plan besar
Daerah-daerah di kampungku sulit mendapatkan energi listrik..
Hingga masjid dan musholla tak bisa pasang pengeras suara..

Lalu pantaslah kemajuan budaya saat itu menggunakan aku..

Sebagai penanda datangnya waktu sholat..
yang bisa menyebarkan suara ke seluruh penjuru desa..

Dur… Dur… Dur…

Itu yang secara zhohir terdengar..
Seperti talu talu suara alat musik..
Tapi di lingkungan yg sudah akrab dengan suaraku itu..
Suara ku seperti takbir panggilan sholat ketika waktunya tiba..

Kini, aku jadi risih..

Banyak orang yang memperkarakan aku..
Aku dibilang benda bid’ah.. benda haram.. benda sesat..

Ketahuilah… aku hanya benda mati yang tak bisa apa-apa..

Mengapa kalian ributkan aku ketika orang masih mengingat jasa-jasaku..

Lebih baik kalian risihkan saja :

amal-amal kalian.. daripada ributkan aku..
pembatalan2 shalat yang kadang kamu luput mengawasinya..
baca-bacaan fatihah yg kadang kita tak terasa lakukan kesalahan..

Kini teknologi elektronik sudah kian berkembang..

sedikit demi sedikit tugasku mulai tergantikan speaker..

tapi tak begitupun adanya..

bagi beberapa mesjid dan mushola
yang masih akrab denganku..

mereka masih mempekerjakan aku

sebagai mitra waktu sholat
terutama ketika aliran listrik mati..

jadi apa masalahnya denganku?

Apa memang kamu yang bermasalah?
Atau kamu mau cari masalah?
Sudahlah… Aku mau damai-damai saja.

p0sting executif 

1 komentar:

Poskan Komentar

 
© Copyright 2010-2011 Syeikh Nawawi Al-Bantani All Rights Reserved.
Template Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.