TAHLILAN TIDAK PUNYA DALIL

                                   mungkin ini tahlilan model salafi wahabi, kq ga' ada yg cingkrang ya...??
Tahlilan haram.....!!!!!!! 
kata siapa.....???
TAHLILAN berasal dari kata hallala, yuhallilu,
tahlilan, artinya membacakan kalimat La Ilaha Illalloh.

Seperti yang tertera dalam Lisanul ’Arab bagi Ibnu Mandzur Al-Ifriqy juz XIII sebagai berikut
ﻭﻗﺎﻝ ﺍﻟﻠﻴﺚ ﺍﻟﺘﻬﻠﻴﻞ ﻗﻮﻝ ﻻﺍﻟﻪ ﺍﻻ ﺍﻟﻠﻪ 
”Telah berkata Allaits :arti Tahlil adalah mengucapkan ﻻﺍﻟﻪ ﺍﻻ ﺍﻟﻠﻪ
Dan yang perlu kita ketahui adalah semua rangkaian kalimat yang ada dalam Tahlil diambil dari ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadits Nabi yang pahalanya dihadiahkan untuk si mayyit.Tahil ini dijalankan berdasar pada dalil-dalil.

DALIL YANG PERTAMA ;
(Al-Tahqiqat, juz III. Sunan an-Nasa’i, juz II)
ﻗﺎﻝ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻣﻦ ﺃﻋﺎﻥ ﻋﻠﻰ ﻣﻴﺖﺑﻘﺮﺍﺀﺓ ﻭﺫﻛﺮﺍﺳﺘﻮﺟﺐﺍﻟﻠﻪ ﻟﻪ ﺍﻟﺠﻨﺔ
ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺪﺍﺭﻣﻰ ﻭﺍﻟﻨﺴﺎﺉ ﻋﻦ ﺍﺑﻦ ﻋﺒﺎﺱ))
Barang siapa menolong mayyit dengan membacakan ayat-ayat Al-Qur’an dan dzikir, maka Alloh memastikan surga baginya.”
(HR. ad-Darimy dan Nasa’I dari Ibnu Abbas)

DALIL YANG KEDUA
(Tanqih al-Qoul)
ﻭﻋﻦ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺃﻧﻪ ﻗﺎﻝ ﺗﺼﺪﻗﻮﺍﻋﻠﻰ ﺃﻧﻔﺴﻜﻢ ﻭﻋﻠﻰ ﺃﻣﻮﺍﺗﻜﻢ ﻭﻋﻠﻰ ﺃﻣﻮﺍﺗﻜﻢ ﻭﻟﻮﺑﺸﺮﺑﺔ ماﺀﻓﺎﻥ ﻟﻢ ﺗﻘﺪﺭﻭﺍ ﻋﻠﻰ ﺫﻟﻚ ﻓﺒﺄﻳﺔ ﻣﻦ ﻛﺘﺎﺏ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻓﺎﻥ ﻟﻢ ﺗﻌﻠﻤﻮﺍﺷﻴﺌﺎ ﻣﻦ ﺍﻟﻘﺮﺀﺍﻥ ﻓﺎﺩﻋﻮ ﻟﻬﻢ ﺑﺎﻟﻤﻐﻔﺮﺓ ﻭﺍﻟﺮﺣﻤﺔ ﻓﺈﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﻋﺪﻛﻢ ﺍﻹﺟﺎﺑﺔ
Bersedekahlah kalian untuk diri kalian dan orang-orang yang telah mati dari keluarga kalian walau hanya air seteguk. Jika kalian tak mampu dengan itu, bersedekahlah dengan ayat-ayat Al-Qur’an. Jika kalian tidak mengerti Al-Qur’an, berdo’alah untuk mereka dengan memintakan ampunan dan rahmat. Sungguh,  ﺗﻌﺎﻟﻰ الله  telah berjanji akan mengabulkan do’a kalian.”

DALIL YANG KETIGA ;
(Kasya-Syubhat li as-Syaikh Mahmud Hasan Rabi)
ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻨﻮﻭﻱ ﻓﻰ ﺷﺮﺡ ﺍﻟﻤﻬﺬﺑﻰ ﻳﺴﺘﺤﺐ ﻳﻌﻨﻰﻟﺰﺍﺋﺮ ﺍﻷﻣﻮﺍﺕ ﺃﻥ ﻳﻘﺮﺃﻣﻦ ﺍﻟﻘﺮﺀﺍﻥ ﻣﺎﺗﻴﺴﺮﻭﻳﺪﻋﻮﻟﻬﻢ ﻋﻘﺒﻬﺎﻧﺺ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻰﻭﺍﺗﻔﻖ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻷﺻﺤﺎﺏ
“Dalam Syarah al-Muhamdzdzab Imam
an-Nawawi berkata:
Adalah disukai seorang berziarah kepada orang mati lalu membaca ayat-ayat al-Qur’an sekedarnya dan
berdo’a untuknya.
Keterangan ini diambil dari teks Imam Syafi’I dan disepakati oleh para ulama yang lainnya.”


DALIL KEEMPAT ;
ﺇﻗﺮﺀﻭﺍ ﻋﻠﻰ ﻣﻮﺗﺎﻛﻢ ﻳﺴﻰ
( (ﺭﻭﺍﻩ ﺍﺣﻤﺪ ﻭﺍﺑﻮﺩﺍﻭﺩ ﻭﺍﺑﻦ ﻣﺎﺟﻪ ﻭﺍﺑﻦ ﺣﺒﺎﻥ ﻭﺍﻟﺤﺎﻛﻢ
Bacalah atas orang-orangmu yang telah mati, akan Surat Yasin” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah,
Ibnu Hibban, dan Alhakim)


DALIL KELIMA ;
(Fathul mu’in pada Hamisy I’anatuttholibin, juz III)
ﻭﻗﺪ ﻧﺺ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻰﻭﺍﻷﺻﺤﺎﺏ ﻋﻠﻰ ﻧﺪﺏﻗﺮﺍﺀﺓ ﻣﺎ ﺗﻴﺴﺮﻋﻨﺪﺍﻟﻤﻴﺖ ﻭﺍﻟﺪﻋﺎﺀ ﻋﻘﺒﻬﺎﺍﻯ ﻻﻧﻪ ﺣﻴﻨﺌﺬ ﺍﺭﺟﻰﻟﻼﺟﺎﺑﺔ ﻭﻻﻥ ﺍﻟﻤﻴﺖ ﺗﻨﺎﻟﻪﺑﺮﻛﺔ ﺍﻟﻘﺮﺍﺀﺓ ﻛﺎﻟﺤﻲﺍﻟﺤﺎﺿﺮ

“Dan telah menyatakan oleh Assyafi’I dan Ashab-nya atas sunnah membaca apa yang mudah di sisi mayit,
dan berdo’a sesudahnya, artinya karena bahwasanya ketika itu lebih diharapkan diterimanya, dan karena bahwa mayyit itu mendapatkan barokah qiro’ah seperti orang hidup yang hadir.”
Dan masih banyak dalil-dalil lain....

57 komentar:

Alhimni Rusdy mengatakan...

ASWAJA kan tetap menjadi peganganku

Anonim mengatakan...

Nabi memiliki beberapa anak, yang anak laki2 semua

meninggal sewaktu masih kecil. Anak-anak perempuan

beliau ada 4 termasuk Fatimah, hidup sampai

dewasa.
Ketika Nabi masih hidup, putra-putri beliau yg

meninggal tidak satupun di TAHLIL i, kl di do'akan

sudah pasti, karena mendo'akan orang tua,

mendo'akan anak, mendo'akan sesama muslim amalan

yg sangat mulia.

Ketika NABI wafat, tdk satu sahabatpun yg TAHLILAN

untuk NABI,
Fatimah tdk mengadakan TAHLIL an, padahal Fatimah

putrinya yg paling dicintai Nabi..
Apakah Fatimah durhaka..???
Apakah Nabi dianggap HEWAN..???? (kata sdr sebelah)

Para sahabat Utama masih lengkap.., masih hidup..
ABU BAKAR adalah mertua NABI,
UMAR bin KHOTOB mertua NABI,
UTSMAN bin AFFAN menantu NABI 2 kali malahan,
ALI bin ABI THOLIB menantu NABI.
Apakah para sahabat BODOH....,
Apakah para sahabat menganggap NABI hewan....

(menurut kalimat sdr sebelah)
Apakah Utsman menantu yg durhaka.., mertua

meninggal gk di TAHLIL kan...
Apakah Ali bin Abi Tholib durhaka.., mertua

meninggal gk di TAHLIL kan....
Apakah mereka LUPA ada amalan yg sangat baik,

yaitu TAHLIL an koq NABI wafat tdk di TAHLIL i..

Saudaraku semua..., sesama MUSLIM...
saya dulu suka TAHLIL an, tetapi sekarang tdk

pernah sy lakukan. Tetapi sy tdk pernah mengatakan

mereka yg tahlilan berati begini.. begitu dll.

Para tetangga awalnya kaget, beberapa dr mereka

berkata:" sak niki koq mboten nate ngrawuhi

TAHLILAN Gus.."
sy jawab dengan baik:"Kanjeng Nabi soho putro

putrinipun sedo nggih mboten di TAHLILI, tapi di

dongak ne, pas bar sholat, pas nganggur leyeh2,

lan sakben wedal sak saget e...? Jenengan Tahlilan

monggo..., sing penting ikhlas.., pun ngarep2

daharan e..."
mereka menjawab: "nggih Gus...".

sy pernah bincang-bincang dg kyai di kampung saya,

sy tanya, apa sebenarnya hukum TAHLIL an..?
Dia jawab Sunnah.., tdk wajib.
sy tanya lagi, apakah sdh pernah disampaikan

kepada msyarakat, bahwa TAHLILAN sunnah, tdk

wajib...??
dia jawab gk berani menyampaikan..., takut timbul

masalah...
setelah bincang2 lama, sy katakan.., Jenengan

tetap TAHLIl an silahkan, tp cobak saja

disampaikan hukum asli TAHLIL an..., sehingga

nanti kita di akhirat tdk dianggap menyembunyikan

ILMU, karena takut kehilangan anggota.., wibawa

dll.

Untuk para Kyai..., sy yg miskin ilmu ini,

berharap besar pada Jenengan semua...., TAHLIL an

silahkan kl menurut Jenengan itu baik, tp sholat

santri harus dinomor satukan..
sy sering kunjung2 ke MASJID yg ada pondoknya.

tentu sebagai musafir saja, rata2 sholat jama'ah

nya menyedihkan.
shaf nya gk rapat, antar jama'ah berjauhan, dan

Imam rata2 gk peduli.
selama sy kunjung2 ke Masjid2 yg ada pondoknya,

Imam datang langsung Takbir, gk peduli tentang

shaf...

Untuk saudara2 salafi..., jangan terlalu keras

dalam berpendapat...
dari kenyataan yg sy liat, saudara2 salfi memang

lebih konsisten.., terutama dalam sholat.., wabil

khusus sholat jama'ah...
tapi bukan berati kita meremehkan yg lain.., kita

do'akan saja yg baik...
siapa tau Alloh SWT memahamkan sudara2 kita kepada

sunnah shahihah dengan lantaran Do'a kita....

demikian uneg2 saya, mohon maaf kl ada yg tdk

berkenan...
semoga Alloh membawa Ummat Islam ini kembali ke

jaman kejayaan Islam di jaman Nabi..., jaman

Sahabat.., Tabi'in dan Tabi'ut Tabi'in
Amin ya Robbal Alamin

Anonim mengatakan...

nt se enaknya aja.sohabat dan keluarga nabi ahli surga.nt klo gak tahlilan gak usah usik2 masalah tahlil.ntar klo udah mati baru nt butuh di tahlilkan.biar abis jutaan mungkin cuman nt nya di alam kubur gak bs ngomong.

Anonim mengatakan...

Baca al-Qur'an dan Tafsirnya secara baik, lihat hadits-hadits yang lain biar pemahaman komplit, di dunia itu yg harus bnyk berbuat baik, rajin shalat, Shadaqah, ngaji al-qur'an, tahlil (bukan tahlilan versi saudara sebelah). jangan nunggu mati minta ditahlilil, minta dibacakan al-qur'an, apalagi minta dikirimin pahala, jangan minterin (sok pinter) dari Nabi sendiri, kalo meninggal, kita tanggungjawab sendiri-sendiri. kyai, ustad, syaikh sekalipun yg kita ikutin ga akan bs menolong, jangan fanatik pendapat ulama, apalagi dalilnya bukan hadits,

marno lulu mengatakan...

Fastabiqul khoirot

Anonim mengatakan...

Kalau tidak salah NU sendiri mengakui kalau tahlilan awalnya adalah kebiasaan kaum hindu, kalau dirubah dengan memasukan ajaran Isla kedalamnya. benar kan ya.
Nah sekarang mari kita lihat apa yang dilakukan oleh kaum nasrani.
1. Mereka merayakan hari kelahiran Al-Masih pada tanggal 25 Desember, Padahal Al-Kitab mengatakan Al-Masih lahir di musim semi, Dan tanggal 25 Desember itu sebenarnya adalah hari besar kaum pagan yang dinamakan Sol Invictus, Atau matahari yang angung.
2. Mereke mengatakan bahwa Al-Masih mati untuk menebus dosa umatnya. Hal ini dasarnya juga dari tradisi pagan yaitu mengenai Quetzalcoatl yang mengorbankan dirinya untuk menebus dosa para pengikutnya.
3. Para umat katalik saat dimakamnya selalu menghadap ke arah timur, alasannya? karena menghadap kearah matahari terbit (ga perlu dijelaskan lagi kan ya)>
nah dengan kata lain apa yang dilakukan oleh kaum nasrani? mereka merubah tradisi dan ibadah pagan dan menyesuaikannya dengan ajaran Al-Masih.
sekarang saya tanya? apa bedanya dengan tahlilan?

Toel Prabangkara mengatakan...

Kalau masalah Tahlilan dibahas oleh orang2 yg bahlul (bodoh mensikapi isi AlQur'an dan Hadist) kemudian dibandingkan dengan kebiasaan jaman Rosululloh dan sahabat serta disamakan (badahal tidak sama) dengan kebiasaan umat agama lain (Hindu, Kristen, katolik) hanya untuk membenarkan diri sendiri itu adalah sifat varian dari ajaran Wahabi. Islam adalah ajaran Rohmatan Lil alamin salah satunya budaya Tahlilan, Sholawatan, Manakib dan budaya yg dilakukan oleh para Wali, alim ulama dan tabiin (yang tentu saja kealimannya tidak diragukan lagi) bukan ajaran Arabisme, Saudiisme atau Untaisme bahkan Wahabiisme

Anonim mengatakan...

Tahlil itu asal mulanya dari klenik kejawen d campur dengan agama islam..jd budaya d campur agama...jd aneh kan??..padahal hadist shahih rasul mengatakan "saat anak adam meninggal dunia maka terputus semua amalnya"..islam itu tegas gaa plin plan sampe harus bikin acra tahlilan..

Anonim mengatakan...

Akeh kang apal Qur'an Hadits'e
Seneng ngafirk'e marang liyan'e
Kafir'e dewe gak digatek'e

Yen isih kotor ati akal'e
Yen isih kotor ati akal'e

Anonim mengatakan...

Maaf saudara-saudara apa salahnya bila bersedekoh untuk orang mati melalui doa dan dzikir?????
Imam Ahmad dan Tirmidzi meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW ditanya: “Hamba yang bagaimanakan yang paling baik di sisi Allah pada hari Kiamat?. Beliau menjawab: “Orang yang banyak berdzikir”.
Maka dengan hadits ini maka posisi yang baik bisa diraih dengan banyak berdzikir kepada Allah.
Bahkan Rasulullah menyatakan jika tidak memiliki kelebihan harta maka ucapkanlah Subhaanallah, Allahu Akbar, Alhamdulillah dan Laa Ilaaha Ilallah.
Dari Abu Dzar rodhiallohu ‘anhu dia berkata: Ada sekelompok sahabat Rasulullah melapor, “Wahai Rasulullah orang-orang kaya telah memborong pahala. Mereka sholat sebagaimana kami sholat, mereka berpuasa sebagaimana kami puasa, namun mereka dapat bersedekah dengan kelebihan hartanya.” Beliau bersabda, “Bukankah Alloh telah menjadikan bagi kalian apa-apa yang dapat kalian sedekahkan? Sesungguhnya pada setiap tasbih ada sedekah, pada setiap tahmid ada sedekah dan pada setiap tahlil ada sedekah, menyuruh kebaikan adalah sedekah, melarang kemungkaran adalah sedekah, dan mendatangi istrimu juga sedekah.” Mereka bertanya. “Wahai Rasulullah, apakah jika seseorang memenuhi kebutuhan syahwatnya itu pun mendatangkan pahala?” Beliau bersabda, “Apa pendapatmu, bila ia menempatkan pada tempat yang haram, bukankah ia berdosa? Demikian pula bila ia menempatkan pada tempat yang halal, ia akan mendapatkan pahala.” (HR. Muslim)
Setiap lafadz suci ini memiliki pahala seperti pahala sedekah. Hal ini disebabkan lafadz-lafadz itu adalah amalan yang kekal sebagaimana Allah berfirman:
Tetapi amalan-amalan yang kekal lagi shaleh adalah lebih baik pahalanya disisi Rabbmu serta lebih baik untuk menjadi harapan. (Al Kahfi: 46)
Dan sesungguhnya mengingat Allah adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al Ankabut:45).
Lalu apa yang salah dari isi bacaan Tahlil???
seandainya isi dari tahlil itu adalah berupa bacaan yang didalamnya tidak ada NAMA ALLAH dan MUHAMMAD. Mungkin saudara-saudara boleh bilang bahwa tahlil adalah bid'ah.
Jadi ingat pernyataan GusMus.. "Wong tambah pinter, rumongso tambah bodho. kok ono wong kok keminter, yo kwi wong paling bodho" UDAH MERASA LEBIH PINTAR DARI WALISONGO? KALO G SUKA TAHLIL, YO WES. Y INI BUDAYA INDONESIA (KHSUSNYA JAWA). KALO ANDA MASIH 'ARAB MINDED' Y SILAHKAN PERGI DARI INDONESIA. TAPI MASIH TERPAKSA DI INDONESIA, YA ITUNG2 NGELATIH KESABARAN AJA DEH. DI LINGKUNGAN ANDA MASIH ADA "AHLI BIDAH" GITU AJA KOK
Innama Anta Mudzakkir Lasta Alaihim Bimushoitir, Wallahua'lam Bi marodhi....

Syifaul Huda mengatakan...

Ngapain sih orang2wahabi tu mengkafir2kan orang yang bc surat yasin al ikhlas dan muawwidzatain, tetapi tdak membahas apapun tentang perzinaan perjudian dan hal 2 lain yang sudah di nash dalam quran , dan bagaimana cara agar dosa2 tersebut dapat terbendung...... mungkin benar otak dan akal orang2 wahabi itu ada d pantat bukan d kepala...dan saya semakin yakin kalau sejarah wahabi itu berawal dr orang2 khowarij yang bodoh serta sukq mengkafirkan orang islam lain nya.....

Syifaul Huda mengatakan...

Tolonglah mas pahami alquran secara makna tersirat bukan hanya yang tersurat, islam tu rahmatan lilalamin, ingat tu... bukan agama yang sukanya cari musuh.... jangan ikut2an lah sama khowarij yang benci pada ali muawwiyah dan sahabat2 yang lain hanya karena saki t hati dan nental....

erykind mengatakan...

DAN BERSHOLAWAT BAGIMU YA ROSUL, LEBIH MENYENANGKAN HATI KAMI DARI PADA MERAYAKAN HARI KELAHIRANMU.

erykind mengatakan...

DAN BERSHOLAWAT BAGIMU YA ROSUL, LEBIH MENYENANGKAN HATI KAMI DARI PADA MERAYAKAN HARI KELAHIRANMU.

- ERYKIND DWI CAHYONO ROHIMAHULLOH AL BANTANI AL MUSAWWA-

Asep Rahmat mengatakan...

Kalo pgn percaya nt kudu mati dulu

Jujan Nuri mengatakan...

Memang secara hukum'y tahlilan ith sunah bkn wajib, tp paedah'y gde bangt bagi org yg sdh meninggal, n jgn kliru antum inti,y tahlilan itu mendoakan yg sdh meninggal di ampuni dosa2,y dll. Cuma di kemas dgn nama tahlilan, itu cuma istilah'y. Gtu aja kok ribut. Klo ada yg wafat ayoo tahlilan maksud,y ayo do'a kan pulan bin pulan begono. Paham boten

Jujan Nuri mengatakan...

Klo yg gk sepaham dgn ane ya sdh jgn di gde2in apa lg jd ribut, antum punya paham lain ya udah paham antum pegang sj. Paham ane jg ane pegang gk bakalan maksa kok antum hrs sepaham dgn ane atw ane kudu sepaham dgn antum gk juga. Ygpenting ukhuwah trjaga, rukun damai walaupun beda paham

santri ndalan mengatakan...

Sudahlah g` usah berdebat g usah mengkafirkan yg lain dan g usah merasa paling benar dan pintar,,yang tahlilan yo ben yang g juga yo ben "apa ada yang dirugikan,,g toh?",saya orang kotor yg g` ngerti agama tp beragama' orang yg dalam ilmu agamanya lahir maupun batin tidak akan pernah merasa dirinya pling bersih,, kita sama2 orang islam sudah sepantasnya damai,agamaku agamaku agamamu agamamu,,,menungso ki koyo teko/poci sek metu seko njerone yo kuwe isine....ojo mung ngaji nulis kr moco

dikhyah yusuf mengatakan...

menara adalah bangunan tinggi dan dibagia atas ada pengapian sebagai penyembahan orang2 majusi. lalu ulama2 ( tidak nabi dan sahabat) meniru membangun menara sabagai bagian dari bangunan masjid bahkan namanyapun tidak berubah dan masih tetap dengan nama " menara' sampai sekarang masjid diseluruh dunia hampir ada bangunan menara. bahkan masjid2 wahabi juga meniru bangunannya orang2 majusi yaitu membangun menara. apa itu tidak sama dengan tahlil utk mayit pada hari ketiga, tujuh dst. kepada gus.... dan para wahabi bukankah yang terpenting isinya tahlil itu apa bukan masalah wadahnya. coba kalian baca sebagian komentar diatas " TAHLILAN Gus.."
sy jawab dengan baik:"Kanjeng Nabi soho putro

putrinipun sedo nggih mboten di TAHLILI, tapi di

dongak ne, pas bar sholat, pas nganggur leyeh2," pertanyaan saya, mana haditsnya yang menjelaskan Rasululloh mendoakan putrinya setelah shalat dan pas nganggur leyeh2?

Anonim mengatakan...

IBNU KATSIR MENGATAKAN : SEANDAINYA AMALAN ITU BAIK TENTU PARA SAHABAT TELAH MENDAHULIUI KITA MENGAMALKANNYA.....

Anonim mengatakan...

1. Dalam Kitab I’anah al- Thalibin:

وَ يُكْرَهُ لِأَهْلِ الْمَيِّتِ الْجُلُوْسِ لِلتَّعْزِيَةِ وَصَنْعُ طَعَامٍ يُجْمِعُوْنَ النَّاسَ عَلَيْهِ لِمَا رَوَى أَحْمَدُ عَنْ جَرِيْرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ الْبَجَلِي قاَلَ كُنَّا نَعُدُّ الْإِجْتِمَاعَ إِلَى أَهْلِ الْمَيِّتِ وَصَنْعَهُمُ الطَّعَامَ بَعْدَ دَفْنِهِ مِنَ النِّيَاحَةِ.

“Dan makruh [dibenci] hukumnya bagi keluarga mayit ikut duduk bersama orang-orang yang sengaja diundang untuk berta’ziyah dan menghidangkan makanan bagi mereka, sesuai dengan riwayat Ahmad dari Jarir bin Abdullah al-Bajali, yang mengemukakan: “Kami menganggap berkumpul di (rumah keluarga) mayit dengan menyuguhi makanan pada mereka, setelah si mayit dikubur, itu sebagai bagian ratapan (yang dilarang)”.

Anonim mengatakan...

IMAM-IMAM MAHZAB SYAFI'I TERNYATA MENGINGKARI TAHLILAN YANG DIANGGAP BID'AH HASANAN.

AL-SYARBINY


Adapun penghidangan makanan oleh keluarga mayit dan berkumpulnya masyarakat dalam acara tersebut, hukumnya bid'ah yang tidak disunnahkan. (Muhammad al-Khathib al-Syarbiny, Mughny al-Muhtaj (Beirut: Dar al-Fikr) juz I, hal 386) Adapun kebiasaan keluarga mayit menghidangkan makanan dan berkumpulnya masyarakat dalam acara tersebut, hukumnya bid'ah yang tidak disunnahkan. (Muhammad al-Khathib al-Syarbiny, al-Iqna' li al-Syarbiny (Beirut: Dar al-Fikr, 1415) juz I, hal 210)

• AL-QALYUBY


Guru kita al-Ramly telah berkata: sesuai dengan apa yang dinyatakan di dalam kitab al-Raudl (an-Nawawy), sesuatu yang merupakan bagian dari perbuatan bid'ah munkarah yang tidak disukai mengerjakannya adalah yang biasa dilakukan oleh masyarakat berupa menghidangkan makanan untuk mengumpulkan tetangga, baik sebelum maupun sesudah hari kematian.(a l- Qalyuby, Hasyiyah al-Qalyuby (Indonesia: Maktabah Dar Ihya;') juz I, hal 353)

• AN-NAWAWY


Adapun penghidangan makanan oleh keluarga mayit berikut berkumpulnya masyarakat dalam acara tersebut tidak ada dalil naqlinya, dan hal tersebut merupakan perbuatan bid'ah yang tidak disunnahkan. (an-Nawawy, al-Majmu' (Beirut: Dar al-Fikr, 1417) juz V, hal 186) IBN HAJAR AL-HAETAMY Dan sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan dari pada penghidangan makanan oleh keluarga mayit, dengan tujuan untuk mengundang masyarakat, hukumnya bid'ah munkarah yang dimakruhkan, berdasarkan keterangan yang shahih dari sahabat Jarir bin Abdullah. (Ibn Hajar al-Haetamy, Tuhfah al-Muhtaj (Beirut: Dar al-Fikr) juz I, hal 577)

• AL-SAYYID AL-BAKRY ABU BAKR AL-DIMYATI


Dan sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan dari pada penghidangan makanan oleh keluarga mayit, dengan tujuan untuk mengundang masyarakat, hukumnya bid'ah yang dimakruhkan, seperti hukum mendatangi undangan tersebut, berdasarkan keterangan yang shahih dari sahabat Jarir bin Abdullah. (al-Sayyid al-Bakry Abu Bakr al-Dimyati, I'anah at-Thalibien (Beirut: Dar al-Fikr) juz II, hal 146)

• AL-AQRIMANY


Adapun makanan yang dihidangkan oleh keluarga mayit pada hari ketiga, keempat, dan sebagainya, berikut berkumpulnya masyarakat dengan tujuan sebagai pendekatan diri serta persembahan kasih sayang kepada mayit, hukumnya bid'ah yang buruk dan merupakan bagian dari perbuatan jahiliyah yang tidak pernah muncul pada abad pertama Islam, serta bukan merupakan bagian dari pekerjaan yang mendapat pujian oleh para ulama. justeru para ulama berkata: tidak pantas bagi orang muslim mengikuti perbuatan-perbuatan yang biasa dilakukan oleh orang kafir. seharusnya setiap orang melarang keluarganya menghadiri acara-acara tersebut. ((al-Aqrimany hal 314 dalam al-Mawa'idz; Pangrodjong Nahdlatoel 'Oelama Tasikmalaya, Th. 1933, No. 18, hal.285)

• RAUDLAH AL-THALIBIEN


Adapun penghidangan makanan oleh keluarga mayit dan pengumpulan masyarakat terhadap acara tersebut, tidak ada dalil naqlinya, bahkan perbuatan tersebut hukumnya bid'ah yang tidak disunnahkan. (Raudlah al-Thalibien (Beirut: al- Maktab al-Islamy, 1405) juz II, hal 145)


APAKAH MEREKA (IMAM-IMAM ) TERSEBUT ORANG BAHLUL JUGA... ATAU ORANG WAHABI JG ????...SIAPAKAH YG LEBIH MENGIKUTI MAHZAB SYAFI'I..?????.

Abdul Wahid mengatakan...

Iya.. para sahabat yang mulia itu semua durhaka kpd Allah karena Nabi Wafat tidak ditahlilkan.... Dasar para sahabat bodoh...???

Anonim mengatakan...

ane pribadi sih ga masalah mo tahlilan ke' mo ngga ke' bodo amat....yg jadi masalah tahlilan itu kan butuh biaya, dan se tau ane biayanya ga sedikit...kalo orang ga punya biaya gimana??..dia ga ngadain tahlilan di omongin, di anggap inilah..itulah..dia mo ngadain tahlilan ga ada biayanya..akhirnya utang pinjem kesono kemari demi ngadain tahlilan...kaya nya kasus kaya gini banyak deh di sekitar kita.....menurut ente gimana????

Anonim mengatakan...

Ane bukan ahlinya, tapi sejauh ini ane blm pernah menemukan riwayat para sahabat nabi melakukan tahlilan seperti yang dikerjakan sebagian umat islam sekarang untuk sanak keluarga yang meninggalkan dunia. Barangkali yang punya ni blog bisa menunjukkan riwayat yang mengisahkan bahwa para sahabat nabi melakukannya.

Anonim mengatakan...

buwat wahabiyun silakan klo mati jgn di tahlilin lsg kubur ok, tp klo ga sefaham jgn maksain pemahamn dangkal ente ke muslim yg lain ok, tahlilan kan sedekah doa ngga di contoh tp ngga ada larangannya kan, hukumnya mubah. bener ga..?

Anonim mengatakan...

Nggak ada selesainya masalah ini dibahas. Mana yang bid'ah dan yang tidak, dah berpadu, jadi satu. Kita dah sama-sama pintar mengolah kata dan punya pendirian masih-masing, yang tentunya menguatkan pendiriannya itu.

Dr Faiz Ahmad chishti mengatakan...

ALMUNAFQAT UL WAHABIYA SALFIYA

Anonim mengatakan...

Peringatan 3, 7, 20, 40, 100 Hari Orang Yang Meninggal

Tradisi yang berkembang dikalangan kita, jika ada orang yang meningal, maka akan diadakan acara tahlilan, do’a, dzikir fida dan lain sebagainya. Untuk mendo’akan orang yang meningal dan biasanya dibarengi dengan jamuan makanan sebagai sodaqoh untuk simayit. Dalil yang digunakan hujjah dalam masalah ini yaitu sebagaimana disebutkan dalam kitab al-Hawi li-Al-Fatawi li as-syuyuti, Juz II, hlm 183 :

قَالَ طَاوُسِ: اِنَّ اْلمَوْتَى يُفْتَنُوْنَ فِىْ قُبُوْرِهِمْ سَْعًا فَكَانُوْا يُسْتَحَبُّوْنَ أَنْ يُطْعِمُوْا عَنْهُمْ تِلْكَ اْلاَيَّامِ-اِلَى اَنْ قَالَ-عَنْ عُبَيْدِ بْنِ عُمَيْرِ قَالَ: يُفْتَنُ رَجُلَانِ مُؤْمِنٍ وَمُنَافِقٍ فَأَمَّا اْلمُؤْمِنُ فَيُفْتَنُ سَبْعًا وَاَمَّا الْمُنَافِقُ يُفْتَنُ اَرْبَعِيْنَ صَبَاحًا.

Imam Thawus berkata : seorang yang mati akan beroleh ujian dari Alloh dalam kuburnya selama tujuh hari. Untuk itu, sebaiknya mereka (yang masih hidup) mengadakan sebuah jamuan makan (sedekah) untuknya selama hari-hari tersebut. Sampai kata-kata: dari sahabat Ubaid Ibn Umair, dia berkata: seorang mu’min dan seorang munafiq sama-sama akan mengalami ujian dalam kubur. Bagi seorang mu’min akan beroleh ujian selama 7 hari, sedang seorang munafik selama 40 hari diwaktu pagi. Dalil diatas adalah sebuah atsar yang menurut Imam As-Syuyuty derajatnya sama dengan hadis marfu’ Mursal maka dapat dijadikan hujjah makna penjelasannya:

اِنَّ أَثَرَ طَاوُسَ حُكْمُهُ حُكْمُ اْلحَدِيْثِ الْمَرْفُوْعِ اْلمُرْسَلِ وَاِسْنَادُهُ اِلَى التَّابِعِى صَحِيْحٌ كَانَ حُجَّةً عِنْدَ اْلاَئِمَّةِ الثَّلَاثَةِ اَبِي حَنِيْفَةَ وَمَالِكٍ وَاَحْمَدَ مُطْلَقًا مِنْ غَيْرِ شَرْطٍ وَاَمَّا عِنْدَ الشَّافِعِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ فَاِنَّهُ يَحْتَجُ بِاْلمُرْسَلِ اِذَا اعْتَضَدَ بِاَحَدِ أُمُوْرٍ مُقَرَّرَةٍ فِى مَحَلِهَا فِيْهَا مَجِيْئِ آخَرَ اَوْ صَحَابِيِّ يُوَافِقُهُ وَالْاِعْتِضَادِ هَهُنَا مَوْجُوْدٌ فَاِنَّهُ رُوِيَ مِثْلُهُ عَنْ مُجَاهْدِ وَعَْ عُبَيْدِ بْنِ عُمَيْرِ وَهُمَا تَابِعِيَانِ اِنْ لَمْ يَكُنْ عُبَيْدٌ صَحَابِيًا.

Anonim mengatakan...

Jka sudah jadi keputusan, atsar (amal sahabat Thawus) diatas hukumnya sama dengan hadist Marfu’ Mursal dan sanadnya sampai pada tabi’in itu shahih dan telah dijadikan hujjah yang mutlak(tanpa syarat) bagi tiga Imam (Maliki, Hanafi, Hambali). Untuk Imam as-Syafi’i ia mau berhujjah dengan hadis mursal jika dibantu atau dilengkapi dengan salah satu ketetapan yang terkait dengannya, seperti adanya hadis yang lain atau kesepakatan Shahabat. Dan, kelengkapan yang dikehendaki Imam as-Syafi’i itu ada, yaitu hadis serupa riwayat dari Mujahid dan dari ubaid bin Umair yang keduanya dari golongan tabi’in, meski mereka berdua bukan sahabat.

Lebih jauh, Imam al-Syuyuti menilai hal tersebut merupakan perbuatan sunah yang telah dilakukan secara turun temurun sejak masa sahabat. Kesunnahan memberikan sedekah makanan selama tujuh hari merupakan perbuatan yang tetap berlaku hingga sekarang (zaman imam as-Syuyuti, abad x Hijriyah) di mekah dan Madinah. Yang jelas, kebiasaan itu tidak pernah ditinggalkan sejak masa sahabat Nabi Muhammad SAW sampai sekarang ini, dan tradisi itu diambil dari Ulama Salaf sejak generasi pertama (masa Sahabat Nabi Muhammad SAW).”. Selanjutnya dalam Hujjah Ahlussunnh Wal jama’ah, juz 1 hlm. 37 dikatakan:

قَوْلُهُ-كَانُوْا يُسْتَحَبُّوْنَ-مِنْ بَابِ قَوْلِ التَّابِعِي كَانُوْا يَفْعَلُوْنَ-وَفِيْهِ قَوْلَانِ لِاَهْلِ الْحَدِيْثِ وَاْلاُصُوْلِ أَحَدُهُمَا اَنَّهُ اَيْضًا مِنْ بَابِ اْلمَرْفُوْعِ وَأَنَّ مَعْنَاهُ: كَانَ النَّاسُ يَفْعَلُوْنَ فِى عَهْدِ النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيَعْلَمُ بِهِ وَيُقِرُّ عَلَيْهِ.

Anonim mengatakan...

(Kata-kata Imam thawus), pada bab tentang kata-kata Tabi’in, mereka melaksanakannya. Dalam hal ini ada dua pendapat: pendapat ahli Hadis dan Ahli Ushul yang salah satunya termasuk hadis Marfu’ maksudnya orang-orang dizaman Nabi melaksanakan hal itu, Nabi sendiri tahu dan menyetujuinya. Dalam kitab Nihayah al-Zain, Juz I, halaman 281 juga disebutkan:

وَالتَّصَدُّقُ عَنِ اْلمَيِّتِ بِوَجْهٍ شَرْعِيٍّ مَطْلُوْبٌ وَلَا يُتَقَيَّدُ بِكَوْنِهِ فِيْ سَبْعَةِ اَيَّامٍ اَوْ اَكْثَرَ اَوْ اَقَلَّ وَتَقْيِيْدُهُ بِبَعْضِ اْلاَيَّامِ مِنَ اْلعَوَائِدِ فَقَطْ كَمَا اَفْتَى بِذَلِكَ السَّيِّدِ اَحْمَدء دَحْلَانِ وَقَدْ جَرَتْ عَادَةُ النَّاسِ بِالتَّصَدُّقِ عَنِ اْلمَيِّتِ فِي ثَالِثٍ مِنْ مَوْتِهِ وَفِي سَابِعٍ وَفِيْ تَمَامِ اْلعِشْرِيْنَ وَفِي اْلاَرْبَعِيْنَ وَفِي الِمأَةِ وَبِذَلِكَ يُفْعَلُ كُلَّ سَنَةٍ حَوْلًا فِي اْلمَوْتِ كَمَا اَفَادَهُ شَيْخَنَا يُوْسُفُ السُنْبُلَاوِيْنِيْ.

Di anjurkan oleh syara’ shodaqoh bagi mayit,dan shodaqoh itu tidak di tentukan pada hari ke tujuh sebelumnya maupun sesudahnya.sesungguhnya pelaksanaan shodaqoh pada hari-hari tertentu itu cuma sebagai kebiasaan (adat) saja,sebagaimana fatwa Sayid Akhmad Dahlan yang mengatakan ”Sungguh telah berlaku dimasyarakat adanya kebiasaan bersedekah untuk mayit pada hari ketiga dari kematian, hari ketujuh, dua puluh, dan ketika genap empat puluh hari serta seratus hari. Setelah itu dilakukan setiap tahun pada hari kematiannya. Sebagaimana disampaikan oleh Syaikh Yusuf Al-Sumbulawini.

Adapun istilah 7 “tujuh hari” dalam acara tahlil bagi orang yang sudah meninggal, hal ini sesuai dengan amal yang dicontohkan sahabat Nabi SAW. Imam Ahmad bin Hanbal RA berkata dalam kitab Al-Zuhd, sebagaimana yang dikutip oleh Imam Suyuthi dalam kitab Al-Hawi li Al-Fatawi:

حَدَّثَنَا هَاشِمُ بْنُ اْلقَاسِمِ قَالَ حَدَّثَنَا اْلأَشْجَعِيُّ عَنْ سُفْيَانَ قَالَ: قَالَ طَاوُسُ: إِنَّ اْلمَوْتَ يُفْتَنُوْنَ فِي قُبُوْرِهِمْ سَبْعًا فَكَانُوْا يَسْتَحِبُّوْنَ أَنْ يُطْعِمُوْا عَنْهُمْ تِلْكَ اْلأَيَّامِ (الحاوي للفتاوي,ج:۲,ص:۱۷۸)

“Hasyim bin Al-Qasim meriwayatkan kepada kami, ia berkata, “Al-Asyja’i meriwayatkan kepada kami dari Sufyan, ia berkata, “Imam Thawus berkata, “Orang yang meninggal dunia diuji selama tujuh hari di dalam kubur mereka, maka kemudian para kalangan salaf mensunnahkan bersedekah makanan untuk orang yang meninggal dunia selama tujuh hari itu” (Al-Hawi li Al-Fatawi, juz II, hal 178). Imam Al-Suyuthi berkata:

أَنَّ سُنَّةَ اْلإِطْعَامِ سَبْعَةَ أَيَّامٍ بَلَغَنِي أَنَّهَا مُسْتَمِرَّةٌ إِلَى اءلآنَ بِمَكَّةَ وَاْلمَدِيْنَةَ فَالظَّاهِرُ أَنَّهَا لمَ ْتَتْرُكْ مِنْ عَهْدِ الصَّحَابَةِ إِلَى اْلآنَ وَأَنَّهُمْ أَخَذُوْهَا خَلَفًا عَنْ سَلَفٍ إِلَى الصَّدْرِ اْلأَوَّلِ (الحاوي للفتاوي,ج:۲,ص:۱۹۴)

“Kebiasaan memberikan sedekah makanan selama tujuh hari merupakan kebiasaan yang tetap berlaku hingga sekarang (zaman imam Suyuthi, sekitar abad IX Hijriah) di Makkah dan Madinah. Yang jelas, kebiasaan itu tidak pernah ditinggalkan sejak masa sahabat Nabi SAW sampai sekarang ini, dan tradisi itu diambil dari ulama salaf sejak generasi pertama (masa sahabat SAW)” (Al-Hawi li Al-Fatawi, juz II, hal 194).

Dari beberapa dalil diatas dapat disimpulkan bahwa kebiasaan masyarakat kita tentang penentuan hari dalam peringatan kematian itu dapat dibenarkan secara syara’

Anonim mengatakan...

Suatu ketika seorang laki-laki wahabi (W) berta’ziyah ke rumah teman akrabnya, yang mantan wahabi (MW), karena salah seorang keluarganya yang meninggal dunia. Kebetulan ia berta’ziyah malam hari, bersamaan dengan berkumpulnya para tetangga yang diundang untuk tahlilan dan makan-makan. Akhirnya terjadilah dialog berikut ini:

W: “Ini orang-orang berkumpul di sini untuk tahlilan dan makan-makan?”

MW: “Iya”.

W: “Ini perbuatan bid’ah dan melanggar sunnah.”

MW: “Apanya yang bid’ah?”

W: “Berkumpul untuk tahlilan ini jelas bid’ah.”

MW: “Orang melakukan perbuatan mesum atau selingkuh itu dosa atau tidak?”

W: “Ya jelas dosa”.

MW: “Bagaimana kalau ia melakukan perbuatan mesum atau selingkuh secara kolektif misalnya?”

W: “Ya jelas tambah nyata dosanya, karena tolong menolong dalam perbuatan maksiat itu dilarang.”

MW: “Orang berdzikir kepada Allah itu bagaimana?”

W: “Iya jelas bagus dan berpahala.”

MW: “Bagaimana kalau iya berdzikir kepada Allah secara kolektif atau berjamaah? Jelas ini sangat bagus, karena termasuk ta’awanu ‘alal birri wattaqwa (tolong menolong atas kebajikan dan ketakwaan)”.

W: “Iya tapi kalau tahlilan tidak ada ulama yang membolehkan.”

Anonim mengatakan...

MW: “Lho, memangnya selain wahabi tidak ada ulamanya?”

W: “Maksudnya, ulama kami, panutan kaum wahabi tidak ada yang membolehkan.”

MW: “Bagaimana Syaikh Ibnu Taimiyah menurut Anda?”

W: “Beliau Syaikhul Islam kami. Syaikh Ibnu Baz sering berpesan agar mengikuti ijtihad-ijtihad beliau.”

MW: “Syaikh Ibnu Taimiyah membolehkan dzikir bersama seperti yang ada dalam tahlilan. Atau membolehkan tahlilan.”

Lalu MW mengambil kitab Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah, juz 22, hal. 305-306, yang di dalamnya menganjurkan dzikir bersama seperti tahlilan. Setelah membaca dengan teliti isi fatwa tersebut, si W, merasa heran, karena apa yang selama ini dia bid’ahkan kepada umat Islam Indonesia, ternyata telah dibolehkan oleh Syaikhul-Islamnya sendiri, yaitu Ibnu Taimiyah. Akhirnya iya merasa kalah dan menyerah sambil berkata “Astaghfirullaahal ‘azhiim”. Tapi masih terus melanjutkan diskusi.

W: “Tapi makanan yang Anda hidangkan atau suguhkan kepada para undangan jelas bid’ah dan tidak boleh dilakukan.”

MW: “Kamu tahu, sejak keluarga kami meninggal dua hari yang lalu, orang-orang berdatangan mengantarkan beras, gula, uang dan lain-lain untuk keluarga kami yang sedang berduka cita. Kalau kami makan sendiri, jelas melebihi kebutuhan. Akhirnya kami masak dan mengundang tetangga untuk tahlilan.”

W: “Ya, tapi bagaimana pun itu perbuatan bid’ah dan haram.”

MW: “Bagaimana pandangan Anda tentang Syaikh Ibnu Baz?”

W: “Beliau ulama kami, kaum wahabi, dan mufti terbesar wahabi pada masa sekarang.”

MW: “Syaikh Ibnu Baz memfatwakan bolehnya mengundang tetangga untuk makan makanan yang berlebihan di rumah duka cita.”

W: “Di mana itu?”

MW mengambil Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, juz 13 hal. 378, kitab himpunan fatwa-fatwa Syaikh Ibnu Baz, yang disusun oleh muridnya, Dr Muhammad bin Sa’ad al-Syuwai’ir, setebal 30 jilid, lalu diperlihatkan kepada si W. Si W dengan keheranan membaca fatwa tersebut:


HUKUM KELUARGA DUKA CITA MENGUNDANG ORANG-ORANG UNTUK MAKAN MAKANAN YANG DIKIRIM KEPADA MEREKA

Soal: Apabila keluarga si mati dikirim makanan pagi atau makanan malam, lalu orang-orang berkumpul di rumah duka cita untuk memakannya, apakah hal tersebut termasuk niyahah yang diharamkan?




Jawab: “Hal demikian bukan termasuk niyahah. Karena mereka tidak membuatnya sendiri. Akan tetapi orang lain yang membuatkan untuk mereka. Dan boleh bagi keluarga duka cita mengundang orang-orang untuk makan bersama mereka dari makanan yang dikirim kepada mereka. Karena tidak jarang makanan itu banyak seali dan melebihi dari kebutuhan keluarga duka cita. (Ibnu Baz, Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, juz 13 hal. 378).
Setelah dialog tersebut, akhirnya si Wahabi nimbrung ke acara tahlilan, dan setelah tahlilan ia makan dengan lahapnya. Bahkan ia pun akhirnya rutin menghadiri tahlilan yang memang difatwakan boleh oleh Ibnu Taimiyah dan Syaikh Ibnu Baz.

Wassalam




Oleh : Ustadz. Muhammad Idrus Ramli

Anonim mengatakan...

DI Maroko pun ada Tahlil

Ada tradisi kenduri di Maroko

Walaupun belum genap tiga tahun saya tinggal di negeri yang bermadzhab Maliki tulen ini, paling tidak saya sudah bisa mengenal budaya dan tradisi yang berkembang dan mereka anut. Salah satu pengalaman yang cukup berkesan bagi saya, ketika saya sering diundang pada acara-acara jamuan makan mereka. Misalnya saja ketika diundang ke walimah pengantin, tasyakuran, khitanan, maupun acara kirim do’a untuk mayit.

Di tanah air, acara seperti ini sangat populer sekali dengan istilah kenduri atau selamatan (slametan-jawa). Istilah tersebut di Maroko lebih akrab dengan sebutan zardah ( الزردة) / salkah (السلكة) dalam bahasa darijah (dialek) mereka.

Salah satu budaya kenduri di indonesia yang masih eksis yaitu tahlilan. Menurut kajian historis, tahlilan ini merupakan hasil akulturasi budaya Hindu. Kala itu, para Mubalig Islam di indonesia yakni wali songo berhasil melakukan dialog dan negosiasi dengan tradisi lokal. Sehingga, Islam dapat diterima dengan mudah oleh masyarakat Indonesia.

Anonim mengatakan...

Seorang sahabat (anak Maroko) yang baru saja ditinggal wafat ayahnya bercerita, mereka biasanya mengadakan zardah pada beberapa hari tertentu pasca kematian salah seorang. Mereka membaca Alquran dan memilih surat-surat khusus seperti surat Yasin, al-Ikhlas, Muawidzatain, dan beberapa kalimat tayyibah.

Hal ini seperti kegiatan tahlilan di Indonesia. Misalnya, ada beberapa sekelompok orang yang memperingati hari berkabung itu sejak hari pertama meninggalnya hingga hari ke-7 dan 40 setelah kematiannya.

Nah, ini merupakan salah satu bukti bahwa di "negeri seribu benteng" ini, ternyata ada juga tradisi semacam kenduri yang kalau boleh saya bilang hampir sama persis dengan budaya kita di tanah air. Barangkali ini karena Syeikh Maulana Malik Ibrahim, yang dikenal dengan Maulana Maghribi, itu benar asalnya dari Maroko. Maka Islam di Maroko ini sangat kultural dan ramah terhadap budaya lokal, sebagaimana yang berkembang di Indonesia. Beda dengan negara Arab lainnya seperti Saudi.

Orang Maroko mempunyai tradisi yang unik saat menyajikan makanan, baik ketika Kenduri maupun jamuan makan lainnya. Mereka menyajikan menu makanan itu sebanyak tiga kali dan bahkan bisa lebih.

Misalnya, menu pertama berupa ikan laut, kemudian disusul dengan menu kedua yaitu ayam dan ketiganya berupa daging sapi atau kambing. Bahkan, mereka kalau menyajikan daging kambing terkadang berupa kambing utuhan (kambing guling) yang hanya dipotong kepala dan kakinya saja. Jadi, masaknya seperti masak ayam panggang (ingkung).

Porsi menu tersebut menurut ukuran perut orang Indonesia, sangat luar biasa banyaknya. Soalnya bagi mereka, satu ekor ayam itu untuk porsi satu orang atau bahkan kadang-kadang bisa lebih.

Anonim mengatakan...

Ada pula beberapa kelompok yang enggan mengikutinya. Khususnya, di acara-acara jamuan makan yang diadakan pasca ada orang yang meninggal, atau sering kita kenal dengan istilah “kirim do’a kepada si mayit”.

Bagi kelompok yang kontra dalam masalah ini, mereka beranggapan bahwa acara itu tidak ada tuntunannya di dalam syari’at Islam. Sehingga, itu termasuk bid’ah dan tentu sangat sesat dan menyesatkan.

Kelompok yang kontra itu biasanya selalu berpedoman pada dalil yang sudah tidak asing lagi bagi kita umat Islam, yaitu: “sSetiap perkara yang baru itu adalah bid’ah, dan setiap bid’ah itu sesat, dan setiap yang sesat itu masuk neraka”. Dan argumen yang paling kuat bagi mereka, bahwa ibadah itu bersifat tauqifi (tak bisa diedit/diotak-atik lagi).

Jadi terpatahkan bahwa tahlilan budaya indonesia yang berasal dari hindu...

Anonim mengatakan...

Satu budaya thalil yang ada di UEA

Ada yang menyangka tidak ada tahlilan di Arab berhubung orang-orang Arab berpaham wahabi yang terkenal anti TMK ( Tahlilan ,Mauludan dan Khoul ) namun besok hari tepatnya tanggal 19 agustus 2011 rakyat Uni Emirates Akan memperingati wafatnya pendiri UEA Sheikh Zayed. Di umumkan hari ini agar para awak media memuat berita tentang Sheikh Zayed …jadi bagi anda yang tinggal di UEA besok anda akan menyaksikan bagaimana TV ,Koran dan radio secara serentak menayangkan acara yang berkaitan dengan sosok Sheikh Zayed.

Sosok sheikh ini memang ruarrr biasa di mata rakyatnya..walau sudah wafat tahun 2004 namun pribadinya masih segar terekam dalam ingatan kolektif rakyat UEA. Lahir pada tahun 1918 sheikh Zayed bersama Sheikh Rashid ( ayahnya Sheikh Mohammed pemimpin Dubai saat ini ) bersepakat untuk membentuk persatuan Uni Emirates .dengan penuh perjuangan akhirnya cita-cita luhur itu terwujud UEA saat ini menjadi salah satu negara yang makmur ,toleran dan aktif dalam berbagai kancah perpolitikan dunia.
Bagaimana sih, pandangan mayoritas rakyat UEA terhadap Sheikh Zayed ?

Ternyata pandangan mereka cukup di wakili dengan dua kata saja yakni sederhana dan bervisi..Sebelum ada bom minyak UEA hanyalah negeri imut yang tidak di perhitungkan namun sejak emas hitam itu di temukan negara ini menjadi salah satu negara produsen minyak terbesar dunia. Tidak heran rakyatnya juga mendapatkan begitu banyak kemudahan dari rajanya inilah yang membuat masyarakat UEA susah melupakan Sheikh Zayed. Karena limpahan minyak tidak hanya di pakai untuk memperkaya keluarga kerajaan saja tapi di bagikan juga kepada rakyatnya melalui berbagai program..misalnya penyediaan tempat tinggal bagi penduduk lokal.

Selain itu sheikh Zayed kerap menerima pengaduan rakyatnya di sebuah tempat yang di beri nama majelis ..di sinilah rakyat UEA bebas mengeluarkan unek-uneknya ,jadi inget program pertemuan para petani di era pak Harto hehehe. Dengan sabar Sheikh Zayed menampung segala keluhan rakyatnya ..enggak cuma di tampung tapi langsung di carikan solusinya..selain menerima rakyat di majelis Sheikh Zayed juga rajin mengadakan kunjungan ke rakyatnya jadi inget safari Ramadannya bung harmoko hehehehe.

Dalam setiap kunjungannya rakyat selalu menerima Sheikh Zayed dengan tangan terbuka ,em, bagaimana dengan kunjungan orang nomor satu kita ya ? Denger-denger setiap beliau berkunjung selalu di demo ..Kacian bangetttttt.mau ketemu rakyat sendiri di demo…

Tanggal 19 ramadan di tetapkan oleh pemerintah Uni Emirates Arab sebagai hari peringatan wafatnya pendiri negara UEA dan saat ini presiden UEA di jabat oleh Sheikh Khalifah yang tiada lain merupakan anaknya Sheikh Zayed sedangkan wakilnya di jabat oleh Sheikh Mohammed anaknya Sheikh Rashid.
” so” jika anda menyangka di Arab kagak ada tahlilan anda salah ..buktinya besok rakyat UEA bersama pemerintahnya bakal mengadakan peringatan wafatnya Sheikh Zayed. Apa latar belakang di adakannya peringatan ini ?

Samalah dengan niat kebanyakan para pelaku khoul di tanah air..yakni mengenang segala jasa sang mayit ,mendoakannya serta berusaha agar dapat meneladaninya..hanya itu kok..jadi kenapa repot - repot menolak tahlil dan Khoul ? Sehingga menganggap para pelakunya sebagai ahli bid’ah ..udahlah jika anti anda tahlil ya udah tapi enggak etis dong jika anda mencak-mencak melihat kami melakukan tahlilan..

hendi hidayat thea mengatakan...

Nyimak az dah.

Anonim mengatakan...

Kata “tahlilan “ memang didalam masa rosul tidak ada, tapi apa yang dibaca didalam tahlilan Rosul mencontohkannya, nah inilah tuntunan, istilahnya memang belum ada, tapi isinya sudah dari dulu Rosul menyuruh kita mengerjakannya, itulah karena pandainya para ulama dalam menyusun suatu isitlah (tahlilan) kemudian mengumpulkan bacaan Al Qur’an, Dzikir, Tasbih, Tahmid, Tahlil, Shalawat dan bacaan lainnya. Dengan kata lain mengadakan acara Tahlilan dengan tujuan untuk memohon kepada Allah SWT., agar kerabat atau keluarga yang telah dipanggil kehadirat-Nya mendapatkan ampunan dan tempat yang layak disisi-Nya, serta berbahagia di alam kubur sana.

Ulfa Central mengatakan...

SAYA menyukai cara mencari pahala dengan berdzikir kepada Allah, saya juga menyukai dalam mengumpulkan manusia agar berdzikir kepada Allah, saya lebih menyukainya apabila tidak terlalu fanatik dalam menentukan waktu(pas hari kematian), saya lebih menyukainya lagi apabila seseorang melakukan tidak dengan niat tradisi(adat).

Ulfa Central mengatakan...

Semoga faham maksud saya

mang ciwong mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Mursyidul Falaah mengatakan...

Masya Allah,
Bismillahirrohmanirrohim

Saudaraku...

jika air kopi tumpah, yang tumpahnya ya msih air kopi juga.
gk mungkin air kopi digelas tumpah, yang tumpahnya jadi air susu.
Jika pengetahuan kitanya cuma itu2 aja, yang diucapkan juga itu2 aja.

saya mau tanya? katanya tahlilan bid'ah, solawatan bid'ah, manaqiban bid'ah,
bid'ahnya itu dulu apa sih? yang tidak ada dizaman rosulullah? klo begitu kita semua ahli bid'ah, kita pake mobil,motor, mesin cuci, televisi, alat-alat dapur dll. itu kan gk ada zaman rosulullah. bagaimana?

Jika dalam hal agama? anda tau al-qur'an mashaf? sering baca? yang saya tahu zaman rosulullah jg belum ada mashaf al-qur'an yang sudah dijilid full 30 juz seperti sekarang, klo bgitu itu juga bid'ah.

Mendo'akan mayit gak boleh? gk dpet pahala? gk akan nyampe do'anya? anda pernah nyolatin mayit gk? itu kan disyari'atkan dalam islam dan ada di zaman Rosululah, bukankan di dalamnya ada bacaan allahummaghfir lahu warhamhu wa'afihi wa'fu 'anhu, itu kan mendo'akan mayit.

Ya sebenarnya klo kita tidak tahu tentang sesuatu lebih baik kita diam, tidak tahu itu bukan berarti tidak ada, mungkin saja karena ke'jahil'an atau ketidaktahuan kita tentang hal tersebut.

Ya klo masalah ibadah(yang disyari'atkan)itu tergantung niat'nya, amalannya bagus juga kalo niatnya salah mah ya salah, sodaqoh juga kalo niatnya ria mh ya gk dapet pahala. Mau berdo'a, mau tahlilan, mau ibadah apa saja juga kalo niatnya gk bener mh ya gk bener jg. Trus kita tahu niat orang lain ibadah itu untuk apa? apa kita bisa denger niatnya hati orang? ngga kn? ya udah wallahu 'alam.

Al-ashlu fil-asyaa al-ibahah, hatta yadullu dalil 'ala tahrimiha. "asal suatu perkara itu boleh, sampai ada dalil yang mengharomkannya".

Yang saya tahu Al-Qur'an itu tidak bisa seenaknya di artikan/diterjemahkan sesuai dengan keinginan kita, ada ilmu'nya, ada asbabunnuzulnya dll. begitu juga hadits, gk bisa seenaknya, ada asbabulwurudnya, perawinya, dll.
Jangan kan Al-Qur'an dan Hadits, Kitab2nya para Imam para Ulama juga gk bisa seenaknya di artikan sesuai dengan kke'inginan kita, sedangkan kita hanya bermodalkan pengetahuan bahasa arab yang seadanya, atau mungkin tidak ngerti bahasa arab, atau mungkin melihat terjemahan orang lain, atau mungkin juga menggunakan mesin penerjemah. ya...mana bisa berhujjah.

kita, yang hanya tahu 1, 2 buah hadits dengan begitu gencarnya mengatakan ini harom, itu harom, ini bid'ah, itu bid'ah, ya mau jadi gimana ini umat, saling bertengkar, saling menghujat satu sama lain hanya karena kejahilan dan ketidaktahuan kita. Sedangkan dipihak lain Para KAFIRUN sedang gencar-gencarnya bersiasat menghancurkan Umat Islam, mereka tidak pernah lelah berfikir melakukan segala cara untuk menghancurkan Islam, Semua waktu mereka curahkan untuk menghancurkan Islam.
Terus Kita umat islam, malah saling sibuk bertengkar satu sama lain. Mau kita bawa kemana Umat ini?

Sudahlah saudaraku, Jangan saling bertengkar untuk hal yang belum terlalu kita fahami, ikuti saja para kyai, para 'ulama, "Al-'Ulamau warotsatul Ambiya, Insya Allah Kita termasuk kedalam orang-oang yang selamat dan di selamatkan oleh Allah,,, Amin.
Wallahu 'Alam bishowab. Terimakasih.

Pak Ber mengatakan...

MOHON MAAF YA KAUM MUSLIM, INILAH YG DIKEHENDAKI MUSUH2 ISLAM AGAR KITA BER-ASYIK BICARA MASALAH KHILAFIYAH, SHG LUPA AMAL PERBUATAN DITENTUKAN OLEH NIATNYA DAN TAQWA ITU DISINI (DADA/HATI) DAN KITA LUPA AMAL MAKRUF DAN NAHI MUNGKAR , KRN MASIH BANYAK MUSLIM YG TIDAK SHOLAT , MASIH BERJUDI DSB. ITU SEHARUSNYA YG KITA PERBEDATKAN SOLUSINYA.

El Rumi mengatakan...

Tidak masuk akal para suhada rasul ketika meninggal tidak di doakan okeh rasul sedangkan ketika sakaratul maut rasul meneriakan ummati ummati,,bukankah itu doa. Tahlilan itu isinya doa doa dan kalimat tauhid laa ila hailallah dan lain2..tahlilan pun bisa sendiri bisa bwrjamaah...lalu bidahnya dari mana..

SAMATCO mengatakan...

Jauh-jauh hari, akan adanya manusia ngawur dan berbahaya itu sudah diperingatkan oleh Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam:

إِنَّهَا سَتَأْتِي عَلَى النَّاسِ سِنُونَ خَدَّاعَةٌ يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ قِيلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ قَالَ السَّفِيهُ يَتَكَلَّمُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ

“Sesungguhnya akan datang kepada manusia tahun-tahun penuh tipu daya. Para pendusta dipercaya sedangkan orang jujur dianggap berdusta. Penghianat diberi amanah sedangkan orang yang amanat dituduh khianat. Dan pada saat itu, para Ruwaibidhah mulai angkat bicara. Ada yang bertanya, ‘Siapa itu Ruwaibidhah?’ Beliau menjawab, ‘Orang dungu yang berbicara tentang urusan orang banyak (umat).” (HR. Ahmad, Syaikh Ahmad Syakir dalam ta’liqnya terhadap Musnad Ahmad menyatakan isnadnya hasan dan matannya shahih. Syaikh Al-Albani juga menshahihkannya dalam al-Shahihah no. 1887)

Abdi Firdaus mengatakan...

mantap.. aswaja

Abdi Firdaus mengatakan...

mantap.. aswaja

Anonim mengatakan...

Subhanallah... melihat komen2 diatas miris melihatnya.

Simple saja "NABIMU TIDAK AJARKAN TAHLILAN!!"

GITU AJA KOK REPOT!!!!!!



Kalau ada yang "tahlil" seolah-olah kalian berbicara:

"HEY NABI, SAYA LEBIH PANDAI DARI ANDA... SAYA TAHLILAN, INI AMALAN BAGUS!!!"

Naudzubillah....

Anonim mengatakan...

halooo, orang2 musyrikin sedang asik2 membicarakan kemajuan ilmu pengetahuan dan segala aplikasinya kita sebagai muslim masih asik dengan masalah khilafiyah (maaf klo salah penulisannya) yang mana masing2 punya dalilnya sendiri. Ibarat kaca, kita memandang kaca tangan kanan kita dari arah kaca/ berlawan arah terlihat sebelah kiri yah gak bisa kita paksakan bahwa itu adalah tangan kiri. please dechh ...kalau gak suka ya sudah, kita ahli bidah kok, baca Quran bukan dari lembaran korma, naek trans Jakarta gak naek onta,kita pake sepatu NIKE gak pake terompah, kita pake kemeja ke kantor gak pake Gamis, ngetik surat pake Komputer gak pake pena dan lain-lain yang Nabi gak "AJARIN" tapi itu sunatullah perkembangan Zaman dan juga gak BILANG kita LEBIH PINTAR DARI NABI.

Adian Nauri mengatakan...

Tapi semua bukan dari perkataan Rasulullah itu hanya pendapat imam

Adian Nauri mengatakan...

Tapi maksud haditsnya berzikir bukan berzikir untuk menyelamatkan mayat

Adian Nauri mengatakan...

Tapi maksud haditsnya berzikir bukan berzikir untuk menyelamatkan mayat

Adian Nauri mengatakan...

Tapi semua bukan dari perkataan Rasulullah itu hanya pendapat imam

aris firmansyah mengatakan...

kelak diakhir jaman akan datang jaman dimana umatku banyak melakukan ajaran bid'ah dan barang siapa yg memegang teguh pada sunahku maka dia akan diasingkan dan barang siapa yg melakukan ajaran bid'ah akan mendapatkan 50 teman atau lebih

aris firmansyah mengatakan...

untuk yg tidak melakukan tahlilan sebaiknya jangan memperdebatkan tahlilan nanti bakalan dikeroyok oleh 50 orang atau lebih.

Ruiz Abdul Aziz mengatakan...

beramal sangatlah penting dalam islam tp ada tuntunan yang jelas dan telah diajarkan dan dicontohkan oleh Rasulullah. dan banyak cara2 beramal yang telah diajarkan oleh Rasulullah dan tidak perlu kita tambah lg krn apa yg telah Rasulullah ajarkan saja kita msh banyak blom mengamalkannya...

Poskan Komentar

 
© Copyright 2010-2011 Syeikh Nawawi Al-Bantani All Rights Reserved.
Template Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.